Bhisma, jalan hidup dan kematianya

10:21:00 PM



Saat lahir

wayang bhisma yogya

Putra dewi gangga dengan prabu sentanu ini sebenarnya adalah anak ke delapan. Dahulu saat dewi gangga menerima pinangan prabu sentanu, ia mengajukan syarat agar dia bebas melakukan apa saja yang ia sukai dan apa pun yang terjadi, prabu sentanu tidak boleh menanyakan tindakanya, jika prabu sentanu melanggarnya maka dewi gangga akan segera pergi.

Bhisma di serial mahabharat

Maka saat itu setiap lahir darinya 1 anak, dewi gangga selalu menghanyutkan bayinya ke sungai. Prabu sentanu hanya bisa diam melihat permaisurinya itu. Sampai pada suatu saat ia ingin menghanyutkan anaknya yang ke delapan.  Tiba tiba sang prabu mencegahnya,

"tidak, hentikan kekejaman ini, ini terlalu mengerikan. hentikan!".

Wanita itu menjawab dengan tenang " ya aku akan menyelamatkan nyawa anak ini, tapi sudah saatnya bagi kita untuk berpisah".


"baiklah, sebelum kau pergi, katakan mengapa kau melakukan tindakan keji ini?".

dewi gangga menjawab, "sekarang kenalilah aku sebagai gangga, dewi sungai ini. aku mengambil bentuk sebagai manusia ini hanya untuk melahirkan ke delapan bayi. Dahulu mereka semua adalah seorang wasu (para dewa yang melayani indra). Dalam kehidupanya yang dahulu mereka semua mencuri sapi sakti milik resi wasistha. Mereka dikutuk untuk lahir ke dunia dan mereka di izinkan untuk pergi dari tubuh mereka begitu lahir melalui perantara ku. Namun bagaimanapun juga yang ke delapan inilah yang telah mengatur seluruh ekspedisi itu dan yang sebenarnya mencuri sapi itu. Bayi ini harus terus hidup dan menjadi laki laki yang luar biasa".

"sekarang anak ini akan kubawa, tetapi akan ku kembalikan padamu nati" tambah dewi gangga.

Belum sempat prabu sentanu menanyakan "kapan?" dewi itu sudah raib membawa anaknya.
Maka bertahun tahun kemudian sang dewi kembali lagi untuk mengembalikan anaknya.

"anak ini akan kukembalikan, ia sudah menguasai seluruh kitab weda yang diajarkan resi wasistha, dan ia telah menguasai seluruh ilmu persenjataan dari parasurama. sekarang ia aku titipkan kepadamu dan kuberi nama dengan nama dewabrata!."


Dikenal dengan nama bhisma

4 tahun kemudian sang prabu akhirnya bertemu dengan setyawati. Sang prabu mengutarakan niatnya untuk melamar setyawati pada calon mertuanya. Akhirnya ayahanda setyawati menerima pinangan sang prabu tapi dengan syarat bahwa anak yang dikandung setyawati nanti harus dijadikan putra mahkota. Mendengar hal itu sang prabu akhirnya kembali ke istananya dan seketika menjadi sedih oleh syarat sang calon mertua. Melihat gelagat ini dewabrata bertanya,

"apa yang menyusahkan pikiran ayahanda?"

Raja itu menjawab, "aku sedih melihat masa depan dinasti kita. kau adalah satu satunya putraku, kau kuat. namun tak ada yang pernah tau bagaimana akhir hidup ksatria. kitab suci mengatakan bahwa memiliki 1 anak saja itu berarti sama saja tidak punya anak".

Dewabrata bingung mendengar apa yang diucapkan ayahnya. Akhirnya ia bertanya pada pengawalnya dan mengunjungi rumah si setyawati. Sesampainya dirumah setyawati dewabrata langsung berkata,

"mungkin kau takut bahwa jika aku menikah, anak anaku akan menjadi saingan keturunan putrimu. dengan ini aku bersumpah akan mati lajang. ini sumpah setiaku".

"kemariah, sekarang jadilah ibu baruku" kata dewabrata menyuruh setyawati untuk berangkat ke hastinapura.

Maka sejak saat itu dewabrata dikenal dengan nama "Bhisma" yang berarti sumpah setia. Dan berkat keihlasanya melepas jabatan "putra mahkota" nya, bhisma dikaruniai oleh siwa agar dapat menentukan sendiri kapan waktu kematianya.


Peristiwa kematian dewi amba

Melalui pernikahan, setyawati seorang putri nelayan dan prabu sentanu dikaruniai 2 anak, citranggada dan citrawirya. Ketika menginjak dewasa citranggada dihadiahi 3 orang wanita oleh bhisma. kesemuanya ia peroleh dari sebuah sayembara.
Ke 3 orang putri tersebut bernama amba, ambika dan ambalika. Bagaimanapun juga pada saat itu putri amba ternyata tidak mau dipinang oleh citranggada, sebab hatinya sudah terpaut oleh raja salwa. Mendengar hal itu bhisma mengizinkan putri amba untuk kembali pada raja salwa. Namun saat ia kembali pada raja salwa, raja salwa tidak mau menerima amba sebab ia telah dimenangkan oleh bhisma. Akhirnya amba kembali kepada bhisma dan memintanya untuk melamarnya.
Karena bhisma terikat dengan sumpahnya maka ia tidak bisa melamar amba. Amba tidak peduli dengan sumpah bhisma. maka bhisma pun menakuti amba dengan panahnya dan secara tak sengaja panah tersebut mengenai amba.

"wahai adinda, sungguh aku tidak sengaja telah membunuhmu. maaf, maaf kan lah aku.", kata bhisma dengan penuh isak sembari meletakan kepala amba pada pangkuanya.

"kakanda. kakanda harus ingat. kelak pada saat terjadi perang besar maka pada saat itulah aku akan menjemput kakanda. kakanda akan aku jemput lewat perantara seorang ksatria perempuan.", ucap amba menjelang kematianya.


Menjelang perang bharatayudha

Apa bisa dikata. Takdir perang besar ini memang kehendak dewata, setelah beribucara maupun diplomasi telah gagal dilayangkan dari pihak pandawa pada pihak kurawa.
Akhirnya masing masing bersaudara itu segera membentuk pasukan tempur. Pandawa menyiapkan 1.530.900 tentara yang setara dengan 7 akshauni dimana terdiri dari kerajaan kerajaan kecil dan salah satunya kerajaan panchala yang merupakan kerajaan milik mertuanya pandawa. Sementara kurawa dibantu oleh 11 akshauni yang rata rata terdiri dari kerajaan besar.
Saat perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdo'a agar kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan. Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.
Dalam pertempuran bnesar itu bhisma bertarung dengan sangat hebat. Siapa saja prajurit yang melawanya maka hancurlah dia. Melihat keadaan ini kresna menyuruh arjuna untuk langsung menumpas bhisma. Meskipun arjuna mendapat kesempatan untuk melawan bhisma, namun ia sering bertarung dengan setengah hati, Mengingat bahwa bhisma merupakan kakeknya sendiri. Begitu pula hal yang dirasakan oleh bhisma.
Melihat gelagat ini habislah kesabaran krisna dan langsung menyerang bhisma dengan chakranya. Bhisma tidak menghindar, namun justru bahagia apabila ia bisa mati di tangan "panjelmaning wishnu". namun sebelum cakra sampai keleher bhisma arjuna segera menasihati krishna akan janjinya.

"wahai madawa, ingatlah akan janjimu untuk tidak turut andil atas perang ini. biarlah kakekku aku yang mengurusi." kata arjuna.

Mendengar itu krishna mengurungkan niatnya dan kembali ke keretanya.
Maka pada malam harinya, pandawa dan kresna mendatangi kemah bhisma untuk mencari tahu apa kelemahanya, bhisma menjawab.

"ketahuilah pantanganku ini, aku tak akan menyerang orang yang membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung..."

Maka esok harinya, setelah mengetahui kelemahan bhisma arjuna meletakan srikandi di atas keretanya untuk bisa menumpas bhisma. Srikandi inilah yang tak lain adalah reinkarnasi dewi amba yang pada saat kematianya berjanji akan menjemput bhisma melalui perantara seorang prajurit wanita.
Maka setelah ia melihat kereta bhisma ia langsung melontarkan panah nya untuk siap menjemput bhisma. Melihat ini bhisma pasrah dan teringat akan janji amba bahwa ia akan menjemputnya. Seketika panah itu langsung menyambut bhisma tepat menembus baju zirahnya. Lantas setelah itu bhisma terjatuh dari keretanya.
Melihat bhisma kakek para pandawa dan kurawa tengah dijemput maut, perang yang tadinya sedang bergolak seru tiba tiba berhenti. Para perwakilan dari pandawa dan kurawa segera menghampiri bhisma. Duryudana menyuruh anak buahnya untuk mengambil kasur untuk dijadikan alas sebagai tempat tidur bhisma. Tapi ia menolaknya dan sebagai gantinya ia memilih kasur yang diberikan oleh bima berupa ribuan panah yang siap untuk menopang jasad bhisma. Karena dianugrahi oleh siwa untuk dapat menentukan waktu kematianya bhisma memilih untuk melihat pertempuran besar di kurusetra sebelum ia mati.
Maka setelah 18 hari pertempuran besar yang melelahkan yang berhasil dimenangkan pihak pandawa, pada saat itulah bhisma mangkat. Mendengar kabar kematian bhisma, seluruh warga hastinapura merasa sedih sekali. Seakan tidak rela kehilangan sosok yang luar biasa yang selama ini selalu menjadi "guru" bagi cucu dan anak anaknya.
Setelah di kremasi, abu dari jasad bhisma yang dibakar segera dilarung ke sungai gangga. Untuk terakhir kalinya inilah ibu bhisma / dewi gangga sendiri menjemput jasad bhisma ke perabuanya dan segera mengantarkanya ke nirwana.


Bhisma menurut pendapat pribadi
Sosok bhisma merupakan sosok yang kufavoritkan setelah yudhistira. Banyak yang menganggap bahwa bhisma ini merupakan sosok yang telah dihasut oleh kekayaan hastinapura, menurut mereka

"kenapa sih bhisma tidak hidup menjadi wanaprastha (pertapa) saja setelah ia bersumpah untuk membujang selamanya, namun bhisma malah memasuki lingkungan kerajaan dan ia sengaja menyeret dirinya untuk terlibat dalam urusan urusan pelik kerajaan hastinapura".

 Namun saya tidak setuju dengan pendapat ini. Sebab bagaimanapun juga ia telah berjanji untuk tidak menjadi raja dan tidak menikah agar keturunanya tidak saling bertengkar dengan keturunan setywati untuk menjadi raja, sekaligus ia berjanji untuk menjadi garda depan hastinapura dan menjadi wali bagi raja muda wicitrawirya yang pada saat itu tengah dilantik.
Coba bayangkan apabila bhisma hidup sebagai wanaprastha di hutan. Tentu saja akan terjadi banyak ketidak adilan yang dilakukan kurawa terhadap pandawa.
selain itu bhisma memang tidak cocok hidup sebagai warnaprastha. Mengingat bahwa ia adalah seseorang dengan kasta ksatria bukanya brahma.

sekian dari saya, terima kasih telah membaca ^_^


You Might Also Like

6 komentar

  1. Wah ternyata aku kuat moco nganti mari :D
    Emang dasarnya aku juga suka wayang tapi nggak ngerti ceritanya. Untunglah ada serial mahabharata di TV :D Jadi agak sedikit ngerti lah..

    Ulasannya lengkap banget (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha aku mulai seneng wayang sajak'e pas smp, pas bar moco buku tentang wayang. dadi setiap bapakku tuku, mesti aku dong wayange jenenge sopo.

      oke suwun yak.

      Delete
  2. Aih ceritanya menarik, lain kali nulis soal yg lain dong :D

    ReplyDelete
  3. bhisma emang keren banget! tapi sayangnya meskipun dia keren dan kuat, sayangnya dia terikat sumpahnya.. setau gue bisma juga memiliki sumpah untuk menjadi abdi hastinapura sampe mati, dan memang kematiannya berada di tangan srikandi :) good post

    ReplyDelete